Substansial Guru

Guru memiliki peranan penting untuk menentukan pencapaian keberhasilan siswa. Tanggung jawab guru tidaklah mudah. Sebab selain bertanggungjawab pada pembelajaran, juga bertanggung jawab pada sisi moral seorang anak.

Dalam pembelajaran, guru dituntut untuk memberikan informasi yang mudah dipahami oleh seorang anak, dengan cara dan strategi yang berbeda-beda. Selain itu, guru juga harus peka terhadap keinginan anak dalam mengikuti setiap pembelajaran. Untuk itu dalam setiap waktu kegiatan belajar mengajar, diperlukan sebuah media pembelajaran yang menunjang dalam pemenuhan kebutuhan inti siswa di sekolah sehingga anak memiliki rasa antusias tingggi dalam mengikuti pembelajaran di kelas. Perhatian pada cara dan strategi pembelajaran ini diharapkan siswa dapat mengikuti pelajaran dengan nyaman dan menyenangkan. Pada era digitalisasi ini, banyak sekali referensi media atau cara yang bisa digunakan dalam setiap pembelajaran. Sehingga tidaklah menjadi alasan ketika masih ada yang mengatakan tentang kesulitan mencari media, dan cara pengajaran yang baik terhadap anak.

Namun, tanggungjawab yang paling mendasar yang diemban oleh seorang guru adalah bagaimana ia dapat membentuk karakter siswa menjadi lebih baik. Perubahan moral dan kepribadian seorang anak adalah sebuah tolak ukur untuk menentukan berhasil dan tidaknya seorang guru dalam mendidik siswa.

Kalau kita melihat kondisi di lapangan maka substansi ini sangatlah jauh dari harapan. Masih banyak yang penulis temukan seorang guru melalaikan kewajiban substansinya sebagai guru. Alih-alih memberi tugas atau mengerjakan tugas keduanya pada waktu bersamaan ia memiliki tugas inti di dalam kelas.

Sebagai seorang pendidik, tentunya paham bahwa pendidikan bukanlah selesai hanya memberikan tugas. Dengan alasan apapun. Sebab, siswa membutuhkan perhatian dan keteladanan yang konkrit yang dilakukan oleh seorang guru. Mana mungkin seorang siswa menjadi lebih disiplin, jika seorang gurunya tidak disiplin. Terlebih bagi guru yang sudah ditugaskan oleh pemerintah, dibiayai oleh pemerintah, disertifikasi (profesional) oleh pemerintah.

Maka wajar saja wajah karakter pendidikan kita tidak berubah, bahkan menurun drastis dari sisi moral. Tidak perlulah mengkritik jika masih ada pejabat yang bolos itu mungkin karena teladan gurunya dulu. Atau pejabat korupsi, karena mungkin gurunya dahulu juga mengenalkan secara tidak sadar telah mengkorupsi waktu mereka bertahun-tahun.

Lalu seberapa besar tanggungjawab guru untuk merubah moral siswa selain orang tua dan lingkungannya? Apakah betul bahwa pendidikan tanggung jawab semua stakeholder pendidikan?. Lalu bagaimana dengan orang tua siswa yang tidak pernah mengenyam pendidikan sama sekali. Yang kemudian ia mengharapkan satu-satunya cara untuk merubah mereka adalah sekolah?.

Pertanyaan-pertanyaan semacam itu tidak akan ada batasnya. sebab orang yang bertanya demikian hakikatnya adalah ia tidak cukup memberi sikap andil secara substansi dalam dunia pendidikan. sehingga yang ia kemukakan adalah peran dan peran orang lain. 

No comments

Ads